Sabtu, 30 Mei 2015

Filosofi Klangenan

Selain karena saya mempunyai usaha traditional handcraft yang saya beri merk 'Klangenan',namun sebenarnya alasan kenapa saya namakan blog ini Ndalem Klangenan lebih kepada filosofi kata klangenan itu sendiri. Disini saya mencoba untuk memaparkannya menurut perspektif saya pribadi.
Dari hal-hal yang menjadi tolok ukur kemapanan dan kemantapan hidup orang Jawa, lebih banyak yang kemudian menjelma jadi ”sekadar” klangenan atau kesukan. Wisma (rumah), wanita (istri), turangga (kuda), curiga (keris, senjata), dan kukila (burung) memang pada mulanya primer sifatnya sebagai kebutuhan. Tapi dalam perkembangan berikutnya, entitas itu bisa bermetamorfosis jadi klangenan.
Namun apakah dengan menjadi klangenan, hal-hal tersebut lantas mengalami ”turun kelas”? Tidakkah yang namanya klangenan justru memiliki fungsi, ruang gerak, dan ekspresi yang lebih divergen?
Baiklah kita mulai dari batasan tentang klangenan yang berasal dari bentuk dasar langen. Artinya seneng atau endah, sehingga kalangenan atau klangenan bisa diartikan sebagai kesenangan atau keindahan. Kenyataannya, kata ini mengalami penyempitan makna karena yang dimaksudkan dengan kesenangan ataupun keindahan itu tertentu.
Dekat dengan kata langen, dari sisi arti, adalah kata suka yang artinya senang, bungah. Maka tidak mengherankan jika ada kata majemuk langen suka, yang jamak tercantum dalam undangan berbahasa Jawa, biasanya merujuk pada hiburan berupa seni pertunjukan. Adapun suka parisuka adalah istilah untuk yang berarti bersenang-senang, bergembira ria.
Tayub, lengger, wayang kulit, ketoprak, dan barongan adalah deretan langen suka yang lazim disuguhkan di desa-desa dalam rangka hajatan ataupun bersih desa. Sebab, dengan pertunjukan itulah diharapkan tetamu atau semua warga desa terhibur.
Lebih dari Hiburan
Tak ayal, orang sering beranggapan bahwa klangenan atau kesukan hadir ataupun dihadirkan demi untuk mendapatkan hiburan belaka. Pendapat itu kiranya tidak sepenuhnya benar. Memang dengan klangenan orang akan memperoleh kenikmatan. Namun klanganen bukan sekadar untuk mengendurkan urat saraf atau refreshing. Lebih dari itu, klangenan fungsional, baik secara individual, sosial, maupun dalam bingkai kultural. Lagi pula, yang tergolong klangenan atau kesukan itu tak hanya yang berupa seni pertunjukan seperti yang telah disebutkan.
Memang, interaksi dengan kebudayaan dari luar, di samping pergulatan kreatif secara internal, juga telah melahirkan berbagai jenis klangenan baru. Ada, memang, yang baru sama sekali, namun selebihnya merupakan modifikasi terhadap yang sudah ada.
Karena itu, klangenan dan kesukan lantas bisa merambah pada berbagai wilayah dengan bermacam bentuk perwujudannya yang dari waktu ke waktu mengalami pergeseran dan perubahan.
Namun lebih dari itu, klangenan atau kesukan itu tidak melulu berhubungan dengan kenyamanan individual. Memang individu-individu itu terhibur, tetapi di balik itu, lahirlah kebersamaan hingga terkembanglah solidaritas dan kebersamaan. Lebih-lebih secara naluriah, baik dalam kesedihan maupun kegembiraan, orang cenderung mengabarkan kepada yang lain, sharing.
Maklumlah jika untuk klangenan atau kesukan, orang sering membutuhkan situasi bersama, ramai-ramai. Malahan jika tidak, bisa berkurang bobotnya. Sebab, apalah enaknya berteriak girang jika tak ada orang lain yang melihatnya. Betapa kenikmatan itu tak lengkap jika hanya dinikmati seorang diri.
Dengan demikian, dari wilayah individu, klangenan telah mampu menuntun banyak orang ke area kolektif. Bahkan dari wilayah domestik ke wilayah publik.
Itu dalam perspektif sinkronik-spasial. Sebaliknya dalam perspektif diakronik-temporal, klangenan bisa menjadi benang yang merajut sekaligus menghubungkan antara masa lalu dan masa kini. Betapa lewat klangenan, apa yang telah menyilam belum benar-benar berlalu. Apa yang kuno ternyata masih berguna dan dibutuhkan untuk masa kini.
Untuk itulah saya berharap agar blog ini dapat menjadi suatu rumah rekaman nilai- nilai luhur budaya Indonesia yang dapat kita nikmati bersama, di waktu senggang kita, terbebas dari beban pikiran, sama seperti ketika kita menikmati apa yang menjadi klangenan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar